Skip navigation

Ada sebuah artikel menarik oleh Zen Rachmat Sugito (wartawan detiksport) yang sangat menggugah hatiku untuk menanggapi masalah pencalonan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Berikut artikel tersebut (dikutip dari detiksport)

Mungkin akan terdengar klise, tapi pasti akan begini jawaban Ronny Pattinasarany jika dimintai komentar ihwal rencana PSSI mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia: “Harusnya PSSI berkonsentrasi pada pembinaan pemain muda daripada buang-buang uang untuk kampanye menjadi tuan rumah Piala Dunia.”

Ronny memang sudah wafat September kemarin dan kita tak mungkin bisa mendengar pendapatnya lagi. Tapi, dengan melihat perhatian dan fokusnya pada pembinaan pemain muda, saya cukup yakin kalau seperti itulah kira-kira pendapat Ronny jika ia masih hidup dan dimintai komentar soal pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia.

Ada satu peristiwa yang mungkin belum banyak diketahui publik. Peristiwa ini cukup bisa menggambarkan bagaimana dan di mana letak perhatian Ronny dalam perkembangan sepakbola Indonesia. Seperti dituliskan oleh Arifin Panigoro dalam kata pengantar untuk biografi Ronny yang baru terbit, Dan, Saya Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini…., ia mengundang Ronny untuk bertukar pendapat, terutama terkait isu pencalonan Arifin sebagai calon ketua umum PSSI. Ketika itu, sangat banyak orang yang berharap Arifin bisa menjadi orang nomor satu di PSSI, baik dari klub hingga wartawan.

Alih-alih mendukung, Ronny secara tegas menolak rencana Arifin untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI. Penolakan itu dinyatakan oleh Ronny bahkan sebelum diskusi keduanya dimulai. Sembari berjabat tangan, Ronny menyatakan penolakannya tanpa tedeng aling-aling. “Saya ingin Bapak berperan penting dalam pembinaan sepakbola usia dini,” ungkap Ronny di awal pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Arifin. Pendek kata, Ronny bisa meyakinkan Arifin agar memanfaatkan kekuatan dananya tidak untuk penggalangan dukungan pencalonan Ketua Umum PSSI, melainkan untuk digunakan dalam menciptakan kompetisi pemain-pemain muda yang mandeg.

Dari situlah kiprah Arifin –melalui Medco Group/Medco Foundation– dalam pembinaan pemain muda dimulai. Ronny sendiri turun tangan langsung dalam penyelenggaraan Liga Medco. Itu berlangsung sampai akhir hayat Ronny. Beberapa hari sebelum kepergian terakhirnya ke Ghuangzhou untuk berobat, Ronny masih sempat sibuk mengurusi Liga Medco d Yogyakarta. Alumni pemain-pemain Liga Medco inilah yang menjadi tulang punggung Tim Nasional U-16 hingga U-18.

Kiprah Ronny di Liga Medco ini melengkapi catatan andil Ronny dalam mendirikan ASIOP, sekolah sepakbola yang banyak menelurkan pemain-pemain muda berbakat Indonesia. Dengan kata-kata yang metaforis, Arifin Panigoro mengenang: “Selama Liga Medco digelar, saya seperti melihat Ronny bermain di lapangan hijau sebagai kapten tim nasional Indonesia.”

Memang, sudah banyak orang yang berteriak-teriak agar pembinaan pemain muda dan penyelenggaraan kompetisi pemain yunior secara berjenjang dan konsisten sebagai perhatian utama. Tapi, dalam soal itu, Ronny bukan cuma bicara, tapi melakukannya dengan segenap ikhtiar yang ia mampu. Pengalamannya mengarungi persaingan pemain yang ketat di masa kecil di Makasar, kerasnya persaingan di Lapangan Karebosi yang legendaris itu, tampaknya membekas dengan kuat dalam pikiran Ronny. Ia mengalami pahit getirnya berlatih sepakbola secara alami tanpa bimbingan pelatih yang memenuhi standar serta tanpa kompetisi khusus pemain yunior. Ronny bukan hanya tidak ingin pengalaman itu kembali terulang, tapi ia juga sangat paham: bakat mutiara sekali pun tak bakal berarti tanpa bimbingan pelatih yang bisa mengenalkan pemain muda pada sistem permainan moderen dan talenta yang cemerlang sekali pun musykil menjadi berlian yang kemilau tanpa diasah melalui kompetisi yang bermutu baik. Membangun sistem pembinaan dan kompetisi pemain muda itulah yang menjadi visi Ronny, legenda yang pernah dijuluki “Beckenbauer-nya Asia” sewaktu membela Asia All-Star di penghujung 1970-an. Sekali lagi, itulah visi seorang Ronny, bukan khayal seorang Ronny.

Beda antara visi dan khayalan terletak pada kemampuannya memahami realitas. Visi bersandar pada realitas yang dari sana disusun rencana-rencana untuk mengubah realitas agar menjadi lebih baik, sementara khayal tak dibatasi oleh realitas, sepahit atau semanis apa pun realitas yang dihadapi. Orang miskin yang tak mau bekerja keras bisa saja berkhayal menjadi seorang miyuner. Tapi, orang miskin yang tahu caranya mengubah nasib, pasti tidak akan berkhayal menjadi milyuner, melainkan akan berpikir bagaimana caranya bisa membuat usaha sekecil apa pun, lantas menyusun ikhtiar dalam mendapatkan modal usaha, sesedikit apa pun modal itu, yang dari sana dimulailah pertarungan hidup untuk mengubah nasib. Kita adalah si miskin, kaum paria, dalam belantika sepakbola, nyaris dalam segala aspeknya. Dan, bagi Ronny, upaya untuk mengubah nasib itu tidak dengan cara menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Sekaya apa pun sebuah negara, FIFA mustahil memilih sebuah negara sebagai tuan rumah Piala Dunia jika negara itu sendiri tak punya kemampuan manajemen yang baik dalam kompetisi lokal. Sehebat apa pun sebuah negara menyiapkan infrastruktur, FIFA pasti akan berpikir ulang memilih sebuah negara sebagai tuan rumah Piala Dunia jika negara itu tak punya prestasi apa-apa bahkan hanya untuk di kawasannya sendiri. Jepang dan Korea Selatan bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bukan cuma karena kemampuannya menyiapkan infrastruktur, tapi karena keduanya punya prestasi di atas rata-rata dan konsisten untuk kawasan Asia.

Berkhayal memang nikmat. Para tahanan di penjara yang tak punya kegiatan apa-apa pasti tahu kegunaan berkhayal sebagai perintang waktu. Jika tak percaya, bertanyalah pada yang pernah dipenjara, jangan tanyakan pada Ronny Pattinasarany.

2 Comments

  1. selain pembinaan pemain muda, pola kompetisi yg tertata rapi dan berkesinambungan jg sgt menentukan pembentukan timnas, karena bgmanapun jg, pemain2 timnas berasal dr klub2 yg setiap pekan bermain di kompetisi liga/copa.

    tp ayas stju dgn ulasan di atas, dan cita2 bang roni patinasarani tentunya…

    semoga bukan sekedar cita2…

  2. Kuncinya, tinggalkanlah budaya instanisasi untuk meraih prestasi. Semua hal ada prosesnya, dan seringkali butuh kesabaran dan pengorbanan. Jer basuki mawa bea.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: